Gunung Kidul Berpotensi Kekeringan, Lebih dari 114 Ribu Warga Masuk Wilayah Rawan Krisis Air Bersih

Bagikan:
📅 30 Jul 2026 • 👁️ 22 views • 🏷️ Jogja • ✍️ WJ Budi Sumber Gambar: Harian Jogja

Musim kemarau yang diperkirakan akan berlangsung lebih lama pada tahun 2026 berpotensi menyebabkan masalah air bersih di Kabupaten Gunungkidul. Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, 114.528 orang yang tinggal di puluhan kelurahan berpotensi mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

Mengantisipasi kekeringan, BPBD Gunungkidul telah membuat peta daerah yang rentan terhadap kekeringan dan menyediakan pasokan air bersih ke wilayah yang mulai terkena dampak. Langkah-langkah ini diambil untuk memastikan bahwa kebutuhan masyarakat yang paling utama tetap terpenuhi selama musim kemarau.

Nanang Irawanto, Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi BPBD Gunungkidul, menyatakan bahwa pihaknya telah menetapkan rencana pelaksanaan droping air bersih di lima belas kapanewon. Namun, tiga kapanewon Wonosari, Ngawen, dan Playen tidak termasuk dalam rencana penyaluran bantuan karena hingga saat ini kekeringan belum terjadi, yang memerlukan distribusi air bersih secara rutin.

Sebagian besar kemungkinan kekeringan ini terjadi di bagian selatan Kabupaten Gunungkidul. Data BPBD menunjukkan bahwa Kapanewon Tepus memiliki populasi paling berpotensi terdampak dengan 29.003 jiwa. Diikuti oleh Kapanewon Tanjungsari dengan 19.750 jiwa, Girisubo dengan 19.699 jiwa, Panggang dengan 16.702 jiwa, dan Paliyan dengan 10.522 jiwa.

Namun demikian, Nanang menyatakan bahwa strategi distribusi bantuan terus berubah. Lokasi dan jumlah bantuan yang diberikan dapat berubah sewaktu-waktu karena perubahan kondisi cuaca dan peningkatan kebutuhan masyarakat. Untuk membantu mengatasi kekeringan tahun ini, BPBD Gunungkidul telah menyiapkan 1.150 tangki air yang siap dikirim ke daerah yang terkena dampak.

Untuk menangani kekeringan, tidak hanya BPBD yang bertanggung jawab. Sebanyak dua belas kapanewon di Kabupaten Gunungkidul telah menyiapkan anggaran mandiri untuk mendukung program droping air bersih kepada masyarakat. Diharapkan kerja sama ini akan mempercepat distribusi bantuan agar warga tidak mengalami kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Menurut Purwono, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, penyaluran bantuan air bersih sebenarnya telah dimulai beberapa waktu lalu. Padukuhan Kemesu, Kalurahan Semugih, dan Kapanewon Rongkop menerima bantuan. Bantuan kemudian didistribusikan ke daerah lain karena kebutuhan masyarakat meningkat. Penyaluran bantuan ini termasuk juga ke Padukuhan Kamal di Kalurahan Wunung, Kapanewon Wonosari, Padukuhan Guyangan di Kalurahan Giripanggung, Kapanewon Tepus, dan Padukuhan Jarah di Kalurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari.

Sampai pertengahan Juli 2026, BPBD telah memberikan 38 tangki air kepada warga yang membutuhkan. Mengingat musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih lama dari biasanya, Purwono memperkirakan bahwa jumlah permintaan tangki tersebut akan terus meningkat kedepannya.

Sementara itu, Panewu Purwosari, Subiyantoro, mengatakan bahwa pemerintah kapanewon telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp79,6 juta untuk penanganan kekeringan. Sejak 8 Juli 2026, warga di Kalurahan Giricahyo dan Giripurwo menerima bantuan air bersih. Sekitar 60 tangki air telah disiapkan, dengan rata-rata enam tangki dikirim setiap hari. Selama anggaran tersedia, pemerintah kapanewon juga siap menambah distribusi jika terdapat permohonan baru dari masyarakat.


📰 Berita Terkait
Jogja
Pemerintah Siapkan Insentif Kendaraan Listrik, Presiden Prab...
Jogja
Proyek PLTS 100 GW Segera Dimulai, Bali Ditunjuk Jadi Lokasi...
Jogja
Lanjutkan Tren Penguatan, Harga Emas Antam Naik Jadi Rp 2,62...
Jogja
Pasar Kripto Fluktuatif, Investor Indonesia Makin Selektif C...
Jogja
Gunung Kidul Berpotensi Kekeringan, Lebih dari 114 Ribu Warg...