Sumber Gambar: Persija Jakarta
Musim 2026-27 menjadi momen yang cukup menarik bagi perkembangan industri sepak bola Indonesia. Selain perubahan nama dari Liga 1 menjadi Super League, kembalinya apparel luar negeri untuk sebagai sponsor dan supplier klub bola lokal menjadi hal baru untuk musim mendatang. Jenama ternama asal Jerman yakni Adidas menyepakati kerjasama sponsorship dengan klub Persija Jakarta. Kontrak ini sendiri akan berlangsung selama 5 musim mendatang. Adidas tidak hanya menjadi sponsor dan supplier tim utama saja. Tim EPA miliki Macan Kemayoran juga akan di supply oleh mereka juga untuk musim depan sama seperti tim utama Persija.
Musim ini Adidas tidak hanya mensponsori jersey Persija maupun PSM saja. Kabarnya, Persik Kediri santer dikabarkan akan menjadi tim yang akan disponsori oleh apparel olahraga yang telah berdiri sejak tahun 1949. Jika hal ini terjadi maka akan ada 4 tim lokal yang mendapat jersey buatan apparel luar negeri. Persib Bandung juga telah menjalin kerjasama dengan Kelme sejak musim lalu. Kerjasama ini akan berlangsung sampai dengan musim 27/28.
Fenomena ini menjadi perhatian utama karena, dalam beberapa tahun terakhir, merek lokal telah lebih banyak mendominasi industri pakaian sepak bola nasional. Masuknya kembali apparel asing ke kompetisi Indonesia mengingatkan publik pada era 2000-an hingga awal 2010-an. Saat itu, banyak klub besar di Indonesia telah bekerja sama dengan merek global seperti Adidas, Nike, Puma, Reebok, Lotto, Diadora, dan Joma.
Kehadiran apparel luar negeri berpotensi meningkatkan persaingan sehat untuk klub. Hal ini membuat klub memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan mitra perlengkapan baik untuk jersey tanding maupun sampai kaos kaki atau rompi. Disatu sisi nama yang sudah terkenal dari apparel luar negeri ini tentunya menjadi hal yang menarik bagi suporter ataupun pecinta jersey karena nama dan kualitas yang diberikan tentu berbeda dengan apparel lokal. Kedepannya dengan brand yang kuat ini diharapkan pendapatan dari jersey yang dijual akan meningkat dan membantu keuangan klub.
Meskipun demikian, kembalinya pakaian asing tidak berarti mengurangi pengaruh apparel lokal. Kondisi ini menunjukkan bahwa sepak bola Indonesia mulai menarik perhatian internasional. Jika tren ini terus berlanjut, mungkin lebih banyak apparel luar negeri akan melihat Super League sebagai pasar yang menarik dalam beberapa tahun ke depan.
Portal berita terpercaya dengan update terbaru setiap hari.