Konflik UEFA dan FIFA Kembali Mencuat

Bagikan:
📅 30 Jul 2026 • 👁️ 18 views • 🏷️ Dunia • ✍️ WJ Budi Sumber Gambar: Ilustrasi

Hubungan antara UEFA dan FIFA kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan bahwa Presiden UEFA, Aleksander Čeferin, memboikot laga final Piala Dunia 2026. Bukan hanya masalah agenda, ketidakhadirannya disebut sebagai protes terhadap sejumlah kontroversi yang mewarnai turnamen. Langkah ini semakin menunjukkan bahwa hubungan antara dua liga sepak bola terbesar di dunia itu tidak selaras.

Salah satu penyebab utama ketegangan adalah perdebatan tentang keputusan FIFA tentang Folarin Balogun, yang dikritik oleh UEFA. Perselisihan itu kemudian semakin memanas setelah tuduhan campur tangan politik dalam kebijakan FIFA selama Piala Dunia. 

Meskipun belum ada pernyataan resmi yang menjelaskan secara pasti mengapa Čeferin tidak hadir, sejumlah laporan menyatakan bahwa keputusannya merupakan tanda bahwa hubungan antara kedua federasi telah hancur.

Dinamika politik di FIFA juga mulai memanas di balik ketegangan tersebut. Sebagian besar petinggi UEFA terus mendukung pencalonan yang dapat menantang Gianni Infantino dalam pemilihan presiden FIFA berikutnya. Meskipun belum ada nama yang diumumkan secara resmi, banyak orang di Eropa ingin perubahan kepemimpinan di sepak bola dunia.

Konflik semakin berkembang setelah FIFA dikabarkan tengah menjajaki rencana membuka kepemilikan komersial Piala Dunia. FIFA dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk menjual sebagian saham turnamennya kepada investor swasta yang bernilai antara 15-20 miliar dolar AS. Strategi penjualan ini akan dilaksanakan melalui pembentukan entitas baru yang disebut FIFA Forward Enterprise. Dalam entitas baru tersebut, FIFA akan tetap menjadi pemegang saham mayoritas akan tetapi sebagian besar saham kepemilikan akan diberikan kepada asosiasi anggota dan investor asing.

UEFA menolak keras rencana komersialisasi Piala Dunia karena dapat melanggar tata kelola olahraga, tidak transparan, dan mengancam prinsip dasar sepak bola. Menurut UEFA, Piala Dunia adalah warisan dari seluruh komunitas sepak bola dunia dan bukanlah aset yang dapat diperjualbelikan. 

Setelah dugaan konflik kepentingan ini muncul ke permukaan, perselisihan antara dua organisasi ini semakin meningkat. Menurut laporan Times Sport, Gianni Infantino disebut memiliki kemungkinan untuk menempati posisi penting di FIFA Forward Enterprise setelah masa jabatannya sebagai presiden FIFA berakhir. Seandainya hal ini benar-benar terjadi, hubungan FIFA dan UEFA akan semakin terganggu, dan persaingan politik menuju pemilihan presiden FIFA berikutnya akan semakin memanas.


📰 Berita Terkait
Indonesia
Sapu Bersih Klub Luar Negeri, 4 Raksasa Indonesia Kuasai Sem...
Indonesia
Misi Skuad Garuda Menjegal Langkah Vietnam dan Amankan Tiket...
Eropa
Pernyataan Ranieri Pasca Ditunjuk Sebagai Dirtek Baru Italia
Indonesia
Target Pribadi Juru Gedor Anyar Laskar Mataram, Adrian Dalma...
Spanyol
Transfer Rodri Berpotensi Menggeser Posisi Aurélien Tchouamé...