Pernyataan Ranieri Pasca Ditunjuk Sebagai Dirtek Baru Italia

Bagikan:
📅 02 Aug 2026 • 👁️ 17 views • 🏷️ Eropa • ✍️ WJ Budi Sumber Gambar: Daily Mail

Setelah ditunjuk sebagai direktur teknik Tim Nasional Italia, Claudio Ranieri resmi memulai babak baru dalam karier panjangnya. Sosok yang dianggap sebagai salah satu pelatih sepak bola paling berpengalaman di Eropa itu mengatakan penunjukan itu adalah pencapaian terbesar dalam kariernya di dunia sepak bola. Ranieri mengatakan pada konferensi pers pertamanya bahwa dia sempat tidak percaya ketika dia menerima telepon dari Giovanni Malagò yang memberi tahu dia tentang hal itu.

"Ini adalah puncak dari sebuah karier. Saya bahkan tidak percaya ketika melihat panggilan Giovanni Malagò masuk. Saat itu saya sedang berada di pantai, seperti yang bisa kalian lihat dari kulit saya yang kecokelatan," ujar Ranieri sambil bercanda.

Meski menyadari tugas barunya tidak akan mudah, pria berusia 74 tahun itu menegaskan dirinya tidak pernah takut menghadapi tantangan. Ranieri telah dikenal sebagai orang yang berhasil menghidupkan kembali tim yang sedang mengalami kesulitan selama karier kepelatihannya, sehingga ia optimistis dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan sepak bola Italia.

"Saya tahu ini akan menjadi situasi yang sulit, tetapi perjalanan karier saya menunjukkan bahwa saya terbiasa menghadapi kesulitan. Saya tidak pernah mundur dari tantangan," tegasnya.

Ranieri menyampaikan dua tujuan utamanya sebagai direktur teknik. Pertama yakni enghidupkan kembali semangat sepak bola Italia. Menurutnya, agar sepak bola menjadi kebanggaan bersama, hubungan emosional antara tim nasional dan pendukungnya harus diperkuat.

Target kedua tidak kalah penting, yakni membawa Italia kembali tampil di Piala Dunia. Ranieri mengaku memiliki motivasi yang sangat pribadi terkait hal tersebut. Ia berharap generasi muda, termasuk cucunya yang kini berusia 12 tahun, dapat merasakan pengalaman menyaksikan Gli Azzurri berlaga di ajang sepak bola terbesar di dunia.

"Ada dua hal yang sangat penting. Pertama, membuat masyarakat kembali jatuh cinta kepada sepak bola. Kedua, agar anak-anak seperti cucu saya yang berusia 12 tahun bisa melihat Italia bermain di Piala Dunia, sesuatu yang belum pernah dia rasakan," ungkapnya.

Ranieri juga sangat memperhatikan sistem Italia untuk pembinaan pemain muda. Dalam pendangannya, karena biaya bergabung dengan akademi sepak bola saat ini terlalu mahal hal ini membuat banyak anak yang berbakat tidak memiliki kesempatan untuk berkembang karena masalah keuangan keluarga mereka. Ia mengingat masanya di Cagliari, di mana banyak orang tua mengeluh tentang biaya akademis yang mahal. Ranieri percaya bahwa situasi ini tidak boleh dibiarkan jika Italia ingin kembali menghasilkan pemain berkualitas.

"Saya harus melihat bagaimana sistem ini berjalan dan mencari solusi. Di dunia di mana anak-anak tertarik pada begitu banyak permainan dan olahraga lain, kita harus membuat mereka kembali mencintai sepak bola," jelasnya.

Ranieri juga menyoroti masalah akses dan kualitas pembinaan pemain Italia. Ia percaya bahwa Italia tidak kekurangan pemain karena berbagai tim kelompok umur mampu bersaing di level internasional. Namun, menurutnya, masalah mulai muncul ketika pemain memasuki tim U-21 hingga tim senior. 

Pria kelahiran Roma, 74 tahun silam itu menolak pandangan bahwa Italia gagal karena mereka tidak memiliki pemain berbakat yang cukup. Ia justru berpendapat bahwa pembinaan yang telah dilakukan selama ini terlalu berfokus pada taktik tim daripada meningkatkan kemampuan setiap pemain.

Menurutnya, sekolah di Italia harus kembali mengajarkan dasar-dasar teknik seperti mengontrol bola, menggiring bola, mengumpan silang dan penyelesaian akhir. Ia juga mengkritik sikap beberapa pelatih sekolah yang lebih mementingkan kemenangan daripada membantu pemain muda berkembang.

"Para pelatih mengatakan mereka tidak punya waktu untuk itu karena mereka harus menang. Itu cara berpikir yang salah. Anda tidak bisa mengajari anak bermain tenis lalu langsung melemparkannya ke pertandingan," katanya.

Kemudian, Ranieri mengaitkan pernyataan Paolo Maldini, yang pernah menyatakan bahwa perubahan dalam sepak bola Italia akan membutuhkan sekitar sepuluh tahun. Menurutnya, pernyataan tersebut menunjukkan betapa pentingnya membangun fondasi sejak usia dini, terutama untuk anak-anak berusia 10–14 tahun yang akan menjadi tulang punggung tim nasional.

Selain itu, ia melakukan perbandingan antara masa lalu dan masa sekarang mengenai sepak bola Italia. Dahulu, anak-anak masih memiliki banyak ruang bermain di lapangan kecil atau alun-alun sehingga kemampuan individu mereka berkembang secara alami. Dia percaya bahwa pemain muda saat ini terlalu sering diarahkan untuk bermain hanya dengan satu atau dua sentuhan yang mengakibatkan penurunan kreativitas dan kemampuan menggiring bola.

Selain itu, Ranieri menjelaskan mengapa dia sempat menolak tawaran untuk melatih Timnas Italia sebelum akhirnya diberikan kepada Gennaro Gattuso. Pada saat itu, dia masih melatih untuk AS Roma dan ia tidak ingin menimbulkan konflik kepentingan dengan menjalankan dua peran sekaligus. "Saya tidak pernah menyesali keputusan yang saya buat dengan hati. Saya sangat ingin mengambil pekerjaan itu, tetapi saat itu tidak mungkin," tuturnya.

Di akhir konferensi pers, Ranieri menanggapi dengan santai pertanyaan mengenai rencana pensiunnya yang kembali tertunda. Ia mengaku sang istri kemungkinan besar akan senang karena pekerjaan barunya tidak mengharuskannya pindah rumah. Sementara itu, pengalaman sebagai penasihat khusus di Roma musim lalu, termasuk konflik yang sempat terjadi dengan Gian Piero Gasperini, disebutnya sebagai pelajaran berharga yang semakin memperkaya pengalamannya di dunia sepak bola.


📰 Berita Terkait
Indonesia
Sapu Bersih Klub Luar Negeri, 4 Raksasa Indonesia Kuasai Sem...
Indonesia
Misi Skuad Garuda Menjegal Langkah Vietnam dan Amankan Tiket...
Eropa
Pernyataan Ranieri Pasca Ditunjuk Sebagai Dirtek Baru Italia
Indonesia
Target Pribadi Juru Gedor Anyar Laskar Mataram, Adrian Dalma...
Spanyol
Transfer Rodri Berpotensi Menggeser Posisi Aurélien Tchouamé...