Sumber Gambar: @aseanunited
Piala AFF 2026 kembali menghadapi rintangan besar. Meskipun Federasi Sepak Bola ASEAN (AFF) mengubah jadwal turnamen ke pertengahan tahun untuk memungkinkan seluruh peserta menurunkan pemain terbaiknya, tujuan tersebut belum tercapai sepenuhnya. Empat negara pasti tidak akan tampil dengan kekuatan penuh: Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Thailand.
Melihat ke belakang, Piala AFF pernah menjadi turnamen Asia Tenggara yang paling bergengsi. Dari edisi pertamanya pada tahun 1996 hingga edisi 2018, hampir seluruh negara peserta selalu mengirimkan tim terbaik mereka. Tidak ada benturan jadwal dengan turnamen internasional saat itu karena kompetisi domestik di banyak negara ASEAN telah berakhir pada November.
Edisi 2021 memulai perubahan situasi. Klub-klub mulai untuk memprioritaskan kompetisi liga demi hasil maksimal di kompetisi Asia dan jadwal kompetisi yang berubah. Malaysia menjadi salah satu negara pertama yang menghadapi kesulitan menurunkan kekuatan terbaik. Di tahun 2022 dan 2024, Indonesia dan Thailand juga menghadapi masalah serupa. Jadwal Piala AFF sering bertentangan dengan jadwal liga domestik karena perubahan kalender kompetisi Asia yang kini menggunakan format lintas tahun.
Puncaknya terjadi pada Piala AFF 2024. Indonesia yang sedang fokus menjalani Kualifikasi Piala Dunia harus mengirim skuad U-20 ke turnamen tersebut. Thailand dan Malaysia pun tidak bisa memanggil seluruh pemain terbaik karena banyak klub menolak melepas pemain. Penyebab utamanya adalah Piala AFF tidak masuk dalam kalender resmi FIFA, sehingga klub tidak memiliki kewajiban untuk melepas pemain ke tim nasional.
Untuk mengatasi situasi ini, AFF berusaha mencari solusi dengan memindahkan jadwal Piala AFF 2026 ke pertengahan tahun. Ini akan bertepatan dengan masa jeda liga yang berbeda. Harapan adalah agar pemain terbaik dari setiap negara dapat bermain untuk timnasnya tanpa mengganggu jadwal pertandingan atau pramusim klub.
Solusi ini mau bagaimanapun juga masih belum membuahkan hasil. Klub-klub tetap membutuhkan waktu untuk menjalani persiapan pramusim dan disatu sisi pemain Asia Tenggara yang kini berkarier di luar negeri mulai menjamur. Akibatnya, Indonesia dan Filipina dipastikan tetap kehilangan beberapa pemain utama yang bermain di Eropa karena klub mereka tidak berkewajiban melepas pemain di luar kalender FIFA. Di sisi lain, Malaysia dan Thailand memiliki masalah yang berbeda. Meskipun sebagian besar pemain mereka bermain di liga lokal, beberapa klub memilih untuk mempertahankan pemain mereka untuk berkonsentrasi pada persiapan musim baru.
Sementara itu, negara-negara ASEAN lainnya masih dapat menggunakan kekuatan terbaik mereka. Ini menunjukkan bahwa perubahan jadwal yang dilakukan AFF belum mampu menghilangkan semua tantangan yang menghalangi turnamen selama beberapa tahun terakhir. Namun demikian, upaya yang dilakukan AFF harus dianggap sebagai upaya untuk mengembalikan prestise Piala AFF yang telah berubah perlahan.
Sekarang, turnamen yang dulunya merupakan kompetisi paling dihormati di Asia Tenggara harus bersaing dengan padatnya kalender sepak bola internasional dan kepentingan klub. Ironisnya, pada saat Piala AFF benar-benar dianggap sebagai turnamen paling bergengsi di wilayah itu dan seluruh negara selalu mengirimkan tim terbaiknya, Indonesia malah belum pernah berhasil menjadi juara.
Portal berita terpercaya dengan update terbaru setiap hari.