Polemik Spanduk Politik Di Laga Semifinal Argentina

Bagikan:
πŸ“… 19 Jul 2026 β€’ πŸ‘οΈ 23 views β€’ 🏷️ Dunia β€’ ✍️ WJ Budi Sumber Gambar: @meravigliosa

Kemenangan dramatis Argentina atas Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta dengan skor 2-1 tidak hanya menceritakan keberhasilan La Albiceleste melaju ke final. Setelah pertandingan tersebut sorotan justru terfokus pada tindakan sejumlah pemain Argentina yang mengangkat spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" atau "Malvinas adalah Argentina". Pesan ini langsung memicu kontroversi di banyak negara.

Spanduk tersebut diangkat oleh beberapa pemain, di antaranya Lisandro MartΓ­nez, Giovani Lo Celso, Cristian Romero, serta rekan-rekan lainnya setelah menerima dari kelompok suporter di tribun.  Tulisan itu merujuk tentang konflik lama antara Inggris dan Argentina mengenai Kepulauan Falkland yang juga dikenal sebagai Malvinas. Masyarakat Argentina menganggap Malvinas sebagai bagian dari identitas nasional mereka dan tetap dianggap sebagai wilayah mereka. Sementara Inggris terus menganggap Falkland sebagai bagian dari teritori Britania berdasarkan hak penduduk pulau untuk menentukan nasib mereka sendiri.

Isu ini berlangsung sejak Perang Malvinas atau Falklands pada 1982 dimana perang antara kedua negara ini terjadi selama 74 hari dan menewaskan ratusan tentara dari kedua belah pihak. Karena itu, pemerintah Inggris langsung menanggapi pesan tersebut dengan keras ketika muncul di arena sebesar Piala Dunia.

Downing Street dan Peter Kyle selaku Sekretaris Negara untuk Bisnis, Energi dan Strategi Industri Britania Raya
meminta FIFA melakukan penyelidikan atas tindakan para pemain Argentina. Pemerintah Kepulauan Falkland bahkan menyatakan kekecewaannya dan berharap badan sepak bola dunia itu mengikuti peraturan.

Di sisi lain, Presiden Argentina Javier Milei justru memberikan dukungan penuh kepada para pemain. Ia menilai pesan tersebut merupakan bentuk ekspresi sejarah yang mencerminkan perasaan mayoritas rakyat Argentina terhadap status Kepulauan Malvinas.

Amerika Serikat sebagai tuan rumah turnamen juga menanggapi kontroversi dari kejadian ini. Direktur Eksekutif Satuan Tugas Piala Dunia Gedung Putih, Andrew Giuliani, menyatakan bahwa para pemain memiliki hak untuk menyampaikan pendapatnya. Ia mengacu pada prinsip First Amendment Konstitusi Amerika Serikat yang menjamin kebebasan berpendapat. Menurut Giuliani, selama berada di wilayah AS, para pemain memiliki kesempatan untuk mengekspresikan pandangan mereka.

Disatu sisi, FIFA memiliki aturan yang melarang penggunaan spanduk, bendera, atau pesan yang bersifat ideologis, politik, atau diskriminatif di stadion. Organisasi sepak bola dunia itu mengumumkan bahwa laporan pertandingan sedang dievaluasi oleh Komisi Disiplin independen sesuai dengan prosedur yang ditetapkan.


πŸ“° Berita Terkait
Inggris
Manchester United Belum Jadikan Bek Tengah Sebagai Prioritas...
Inggris
Tottenham Bikin Kejutan Dengan Dekati Osimhen & Gakpo
Indonesia
China Mundur Dari FIFA Asean Cup 2026, Pakistan Tetap Berpar...
Indonesia
Mariano Peralta Belum Akan Bermain Lawan Persija
Prancis
PSG Dekati Mika Godts & Kejar Ferran Torres