Resensi Super League 25-26: Paradoks Skuad Bertabur Bintang Dari Dewa United

Bagikan:
📅 22 Jun 2026 • 👁️ 42 views • 🏷️ Indonesia • ✍️ WJ Budi Sumber Gambar: Dewa United

Dewa United yang menjalani musim terbaiknya musim 24-25 kemarin saat ini tengah mengalami keterpurukan. Skuad asuhan Jan Olde Riekerink ini harus puas mengakhiri musim 25-26 di posisi 7 klasemen akhir. Capaian ini membuat ekspektasi banyak orang di awal musim terhadap Dewa United berbuah kekecewaan. Sebelum awal musim 25-26, Dewa United telah menciptakan banyak gebrakan dari pemain yang mereka datangkan. Gebrakan ini bukan hanya terjadi di awal musim saja namun juga terjadi saat jeda kompetisi Bulan Januari kemarin.

Kualitas pemain yang dimiliki serta keberadaan pelatih berpengalaman menjadikan Dewa United sebagai salah satu tim yang paling diunggulkan di awal musim. Modal tersebut seharusnya cukup untuk bersaing di tengah ketatnya persaingan kompetisi. Dewa United tidak hanya bermain di Super League saja, tim yang berjuluk Banten Warriors ini juga mewakili Indonesia di kancah Asia tepatnya di kompetisi AFC Challenge League. Materi yang dimiliki oleh tim ini sesungguhnya bisa membuat mereka bermain sama baiknya di dua kompetisi yang mereka lakoni.  

Namun, harapan tersebut tidak berbanding lurus dengan kenyataan di lapangan. Performa tim sepanjang musim kerap menunjukkan inkonsistensi sehingga target yang dipasang di awal musim gagal tercapai. Oleh karena itu, artikel ini akan mengulas sejumlah faktor yang diduga menjadi penyebab menurunnya performa Dewa United selama mengarungi kompetisi Super League 2025-26. 

Materi Pemain Bintang Dengan Ragam Atributnya

Skuad yang dimiliki Dewa United ini terbilang sangat bagus untuk ukuran tim yang 4 tahun lalu baru promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Kemewahan materi pemain berlimpah dari sektor belakang sampai dengan penyerang. Secara kapasitas pemain, Dewa United memiliki pemain yang memiliki atribut yang sangat mumpuni. 

Pemain seperti Sonny Stevens menawarkan kemampuan kiper asing diatas rata-rata dalam hal shoot stopping, dan juga pengambilan keputusan. Sementara itu pemain bertahan seperti Nick Kuipers, Damion Lowe menjadi breaker dalam memutus serangan lawan dengan postur tubuhnya dan umpang lambung ke area pertahanan lawan. Disatu sisi Wahyu Prast memberikan ketenangan saat bertahan dan juga kedisiplinan dalam menjaga area. Sementara untuk pos bek sayap Edo Febriansyah, Alta Ballah, Johnathan, Ady Setyawan mampu memberikan tusukan baik berupa umpan silang maupun pergerakan inverted ke pertahanan tim lawan.

Kehadiran pemain seperti Alexis Messidoro memberikan warna tersendiri di sisi aluran bola saat melakukan transisi menyerang. Visi serta umpannya yang dapat memanjakan pemain depan ini menjadi salah satu senjata mematikan bagi pria asal Argentina ini dalam mengatur serangan. Selain itu tak hanya umpannya saja yang mematikan akan tetapi kemampuan duel satu lawan satu dengan giringan bolanya juga sangat merepotkan pertahanan lawan. Kompatriotnya yakni Jaja juga menjadi senjata andalan Dewa dalam mendikte permainan. Kemampuannya dalam mengalirkan bola dengan cepat, mobilitas permainan dan skill melindungi bolanya membuat ia bisa sesuka hati untuk mengatur tempo permainan. 

Dewa United juga memiliki gelandang bertahan yang menjaga ritme pertandingan terutama pada saat bola berhasil direbut. Ivar Jenner yang didatangkan dari FC Utrecht ini menjadi kunci serangan maupun bertahan dari Dewa United lewat kapasitasnya dengan daya jelajah timggi serta akurasi umpan yang diatas rata-rata. Pemain seperti Ricky Kambuaya melengkapi kemewahan lini tengah Dewa United dengan ketenangan dalam mengolah bola dan pengambilan keputusan saat pertandingan berlangsung.

Di pos penyerang, Dewa United memiliki Taisei Marukawa yang memiliki kemampuan olah bola mumpuni bila bermain sebagai sayap. Kehadiran Egy Maulana Vikri semakin memberikan opsi bagi Dewa United apabila tenaga Taisei habis atau sedang kurang performanya dengan tekukan dribbling yang menjadi senjata ampuhnya. Kehadiran Stefano Lilipaly semakin memperdalam pos penyerangan baik di bagian sayap maupun attacking midfield. Kemampuannya dengan umpan presisi serta eksekusi bola lewat teknik plesing menjadi amunisi cadangan bila serangan yang dilakukan menghadapi kebuntuan. 

Vico Duarte yang memiliki kelincahan serta pergerakan dinamis dengan kombinasi umpan pendek mampu mengacak-acak pertahanan lawan menjadi ramuan jitu menghadapi lawan yang bertahan dengan rapat namun tak rapi dalam menjaga garis bertahan. Kedatangan pemain asal Maroko yakni Noah Sadaoui memberikan opsi bagi Dewa United bila mereka membutuhkan pemain yang memiliki visi bermain menyerang dengan lari yang diatas rata-rata.

Nama Alex Martins menjadi juru gedor utama skuad asuhan Jan Olde Riekerink. Selama bermain dengan Dewa United, pemain kelahiran Brazil tersebut selalu mencetak 20 gol per musim. Apabila Alex tengah mengalami seret gol atau perlu pemain yang dapat mengacak-acak pertahanan lawan maka Dewa United dapat juga menurunkan Kodai Tanaka. Pemain yang di datangkan dari Persis di bursa transfer Januari lalu memiliki keunggulan dalam mencari posisi dan memancing pergerakan lawan sehingga ia dapat membuka ruang untuk kompatriotnya. Selain pergerakannya, Kodai Tanaka mampu memberikan tekanan lewat tembakannya serta umpan kunci ke pertahanan lawan. Hadirnya Rafael Struick memberikan kedalaman disisi penyerangan baik sayap maupun striker tunggal. Atribut pemain didikan Ado Den Hag ini seperti keeping the ball serta pembukaan ruang ke sektor sayap memberikan dimensi tersendiri bagi lini serang Dewa United.

Komposisi Yang Mewah Tapi Tak Berpadu Rasa

Kemewahan yang dimiliki oleh Dewa United tentunya membuat tim lawan menjadi was-was. Pemain yang dimiliki oleh Jan Olde Riekerink memberikan dirinya opsi untuk bermain dengan gaya yang berbeda-beda guna menghadapi karakteristik tim lawan yang beraneka ragam. Akan tetapi mantan pelatih Galatasaray tersebut bukanlah tipe pelatih yang bermain tanpa filosofi pasti seperti Bojan maupun Lafundes.

Selama menjadi pelatih lebih dari 28 tahun, Jan Olde Riekerink terkenal dengan pendekatan sepak bola menyerang khas negeri Oranje selama ia memegang tim yang ia latih baik itu tim muda klub, timnas muda ataupun klub profesional senior. Tentunya hal ini sedikit memberikan turbulensi bagi Dewa United itu sendiri. Liga Indonesia seperti yang kita tahu tidak pernah ada tim yang bermain dengan filosofi pasti dan saklek. 

Jan Olde Riekerink selalu memakai taktik possession football yang menekankan bahwa bola harus dimainkan oleh pemainnya dengan cara apapun. Pendekatan seperti pressing tinggi untuk segera mendapatkan bola serta bermain lama dengan penuh kesabaran mencari ruang menjadi ciri khas yang dipertahankan pelatih berusia 63 tahun tersebut. Beberapa hal kecil yang diubah oleh meneer satu ini hanya pada variasi umpan yang bebas diekspresikan oleh pemain selagi dalam posisi menguasai bola.

Hal ini tentunya menjadi berkah bagi pemain yang memiliki kedekatan dengan filosofi permainan possesion akan tetapi menjadi neraka bagi pemain yang kapabilitasnya akan keluar dengan taktik selain possession ball ini. Sebagai contoh pemain seperti Rafael Struick, Egy Maulana & Noah Sadaoui sangat tak nyaman memegang bola terlalu lama dengan model sepak bola seperti ini. Ketiga pemain tersebut memiliki lari jarak pendek atau panjang yang diatas rata-rata. Taktik serangan balik cepat mengandalkan kecepatan menjadi kunci untuk memanfaatkan potensi mereka. Sayangnya, Jan Olde Riekerink selalu saklek dengan format possesion ball dan formasi 4-3-3 nya. Hal ini yang menjadi titik kelemahan besar bagi Dewa United saat berkompetisi. 

Tak jarang pendekatan ini membuat mereka sering mendapat kekalahan. Selama 34 pertandingan liga yang mereka lakoni, Dewa United menelan kekalahan sebanyak 13 kali. Skema terjadinya gol oleh lawan ke gawang mereka pun karena taktik serangan balik cepat saat Dewa United tidak segera melakukan transisi dari menyerang ke bertahan. Jumlah kebobolan gawang yang dijaga Sonny Stevens ini sebanyak 37 gol. Raihan jumlah kebobolan yang sama dengan Persita yang duduk di posisi 10 klasemen akhir liga.

Pengorbanan Yang Tak Terwujud Dengan Indah

Pencapaian Dewa United yang baru 4 tahun lalu promosi dan saat ini menjadi nama yang diperhitungkan di kancah tertinggi sepak bola Indonesia  menjadi capaian yang luar biasa. Secara permainan, apa yang disajikan oleh Dewa United ini sangatlah memanjakan mata dengan konsep sepak bola menyerang yang diusung oleh Kambuaya dan kolega. Nyamannya mereka dengan bermain sepak bola menyerang ini tengah mereka usahakan juga ketika bermain di kompetisi Asia.

Permainan menyerang yang ditampilkan oleh Dewa United tentunya memberikan corak warna tersendiri dan tentu saja memiliki beberapa efek samping dalam seni sepak bola yang mereka sajikan. Sepak bola menyerang dan possesion ball membutuhkan stamina tinggi bagi para pemain. Permainan ini tentunya sangat menguras fisik pemain apalagi dilakukan dengan pendekatan pressing tinggi terhadap lawan. 

Dewa United memang berhasil melakukan pendekatan ini di liga Indonesia. Walaupun tampak menyerang dengan membabi buta beserta melakukan press tinggi ke area lawan, para pemain mereka tak nampak sekalipun terlihat kelelahan. Perlu di garis bawahi jika taktik ini berhasil bukan semata-mata karena pemain yang dimiliki bagus dan cocok dengan taktik sepak bola menyerang akan tetapi juga faktor bahwa Dewa United hanya menjalani 1 kompetisi saja.

Maka dari itu tak heran selama pekan pertama Super League, tim Dewa United sering mendapat kekalahan. Selama 17 pertandingan di paruh musim pertama mereka menelan 9 kekalahan di liga dan sempat terperosok ke posisi 5 terbawah selama pekan ke-12 sampai ke-16. Hal ini mereka lakukan karena disaat bersamaan Dewa United harus melakoni babak grup AFC Challenge League. Dalam turnamen ini, Dewa United mentapkan target juara sebagai alasan mengapa harus bermain all out dan mengorbankan pertandingan di Super League.

Di kancah kompetisi luar negeri, Dewa United tentunya akan berhadapan dengan tim yang tumbuh di kultur sepak bola yang berbeda. Meski begitu dewa tampak tampil meyakinkan dengan mampu membabat habis tim asal Myanmar dan Taiwan dengan mencetak 4 gol di masing-masing pertandingan dan hanya mengalami 1 kali hasil remis kala menghadapi klub Kamboja. Semua laga di fase grup ini terjadi di Indonesia dan Dewa United sendiri unggul karena faktor sebagai tuan rumah, cuaca maupun lapangan pertandingan. Tak heran dengan segala keunggulan selain materi pemain serta pelatih Dewa United mampu lolos ke babak selanjutnya. Petaka baru mulai saat mereka lolos ke perempat final AFC Challenge League dimana Dewa United yang diunggulkan harus tersingkir oleh Manilla Digger. Hal ini membuat target mereka untuk menjuarai kompetisi baru kepunyaan AFC ini menjadi sirna.

Kekalahan tersebut membuat Dewa United tersingkir sekaligus mengalihkan fokus ke Liga lagi. Setelah resmi keluar dari kompetisi kasta ketiga klub Asia ini, Dewa United langsung tancap gas dengan mengemas 6 kemenangan dan 2 hasil imbang serta 2 kekalahan saja. Akan tetapi hasil ini mereka dapatkan di pekan ke-25 dimana jadwal liga hanya tersisa sebanyak 9 laga lagi. Hal ini membuat Dewa United harus memupus mimpinya lagi untuk bermain di kompetisi Asia musim depan karena finish diluar 2 besar. 


📰 Berita Terkait
Spanyol
Malangnya Frenkie De Jong di Barcelona
Spanyol
Pemain Madrid yang Mencuri Perhatian Mourinho
Eropa
Musiala Jalani Operasi Pasca Cedera Serius
Spanyol
Atletico Madrid Gugat Barca dalam Kasus Julian Alvarez
Eropa
Lewandowski: Spanyol Bisa Juara Pildun Lagi